Sunday, June 10, 2012

Hilangnya Hidayah Dan Taufik


Hidayah dan taufik kalau tidak pandai menjaganya akan diambil kembali atau akan hilang dari kita. Di antara sebab-sebab hidayah dan taufik ditarik balik oleh Allah adalah sebagai berikut:

  1. Kita durhaka pada guru yang pernah memberi pengajaran dan lari dari pimpinan. Di waktu itu kita kehilangan pemimpin. Maka hidup kita akan terombang-ambing.
  2. Durhaka kepada orang tua, apabila kita sia-siakan kedua-duanya, kita biarkan ibu dan bapak kita tidak terurus dan terjaga. Apalagi kalau dia sampai marah atau rasa tidak senang dengan kita.
  3. Apabila jiwa kita telah terpengaruh dengan dunia, kita akan merasa tidak suka beribadah, atau mulai terasa berat mengerjakannya, maka perlahan-lahan akan luntur hidayah tersebut dan perkara halal dan haram mulai tidak dipedulikan. Akhirnya perasaan takut kepada Tuhan perlahan-lahan terhapus dari hati kita hingga akhirnya perasaan tersebuthilang sama sekali. 
  4. Menzalimi orang. Dengan sebab menzalimi, perasaan takut kepada Tuhan sedikit demi sedikit dicabut. Setelah itu lalai akan datang. Timbul perasaan malas beribadah. Kemungkaran dan kemaksiatan sedikit demi sedikit sudah berani dibuat. Begitulah seterusnya hingga hanyut dan tenggelam makin dalam.
  5. Seseorang tidak menjaga pergaulannya, dengan bergaul bebas bersama orang-orang yang tidak menjaga syariat. Akhirnya timbul perasaan senang dengan kebebasan itu. Lalu timbul perasaan suka dengan perbuatan maksiat dan setelah itu  hanyut secara total dalam arus kemungkaran dan maksiat. Pada saat itu perasaan takut dengan Tuhan pun hilang sirna.

Referensi




Perkara Yang Menjadi Sebab Datangnya Hidayah


Orang yang mendapat hidayah artinya orang tersebut hatinya terbuka untuk mengamalkan Islam serta memperjuangkan Islam di masyarakat. Orang yang tidak ada hidayah, akan susah untuk mengamalkan Islam.

Berikut ini beberapa perkara yang menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah Islam:
  1. Orang yang lahir di dalam keluarga yang beragama Islam, maka mereka mendapat didikan dari keluarganya serta melaksanakan ajaran Islam dalam suasana keluarga. Orang ini agak bernasib baik.
  2. Orang yang sejak lahir telah Allah bekalkan kesadaran dan petunjuk di dalam hatinya. Dari kecil mereka sudah suka kepada kebaikan dan kebenaran. Mereka terus mencari dan mengamalkan. Golongan ini sangat sedikit. Ini adalah pemberian Allah secara wahbiah (anugerah / pemberian).
  3. Orang yang di dalam perjalanan hidupnya berjumpa golongan atau kelompok yang beragama Islam dan mengamalkan syariat. Maka dilihat kehidupan yang mengamalkan syariat tersebut begitu baik dan bahagia sehingga membuatnya mengikuti golongan itu.
  4. Orang yang senantiasa mencari-cari kebenaran, mereka senantiasa membaca, mengkaji, membandingkan serta melihat-lihat berbagai golongan dari berbagai-bagai agama dan ideologi serta bergaul dengan golongan itu maka akhirnya mereka bertemu dengan kebenaran itu.
  5. Orang yang mendapat pendidikan Islam, mendengar ceramah agama, ikut kursus agama, menghadiri majelis-majelis agama maka sebagian dari mereka mendapat petunjuk dari mengaji dan mendengar acara-acara tersebut.
  6. Orang yang mendapat ujian oleh Allah, misalnya setelah kaya jatuh miskin, atau mendapat sakit parah, atau ditimpa bencana alam dan lain-lain lagi. Setelah menerima ujian tersebut orang tersebut menjadi sadar dan insyaf. Dari situ dia kembali mendekati diri kepada Allah SWT.
  7. Orang yang mendapat kebenaran, karena Allah beri mereka pengalaman alam kerohanian/kebatinan seperti sewaktu mimpi melihat alam barzakh, dia melihat orang kena azab, atau dia sendiri yang kena azab atau melihat Qiamat atau Allah perlihatkan kepadanya pohon bersujud, pohon bertasbih, dan lain-lain lagi hal yang ajaib. Setelah itu mereka pun kembali kepada kebenaran.
  8. Orang yang sadar setelah melihat ada golongan atau keluarga yang kehidupan dunianya begitu hebat, rumah besar, kaya-raya, kendaraan yang mewah, harta banyak tapi kehidupan keluarga itu senantiasa porak-peranda, krisis sering terjadi, kasih sayang tidak ada, masing-masing membawa keinginan sendiri, ukhwah (persaudaraan) tidak ada ; maka dari peristiwa itu mereka sadar dan insyaf bahwa kemewahan hidup di dunia tidak menjamin mendapat kebahagiaan, apa lagi untuk di Akhirat kelak. Dari peristiwa itu orang tersebut jadi mendekatkan diri kepada Islam.
  9. Orang yang mereka memiliki kehidupan mewah, serba ada, apapun yang diinginkan dapat, pangkat ada, banyak uang, namun kebahagiaan tidak dirasakan, hidup di dalam keluarga porak-peranda, lalu akhirnya mereka insyaf dan sadar akhirnya mencari jalan kebenaran.
  10. Orang yang mendapat petunjuk karena ada orang yang soleh atau orang yang bertaqwa mendoakannya, lalu doanya dikabulkan oleh Allah, maka Islamlah dia. Contohnya adalah seperti dalam kisah Sayidina Umar Al Khattab yang mendapat petunjuk karena beliau didoakan oleh Rasulullah SAW. 
Hidayah ini dapat datang dan pergi. Jika tidak dijaga dengan baik maka hidayah ini dapat hilang tak berbekas. Penjelasan lebih detail ada di artikel Hilangnya Hidayah Dan Taufik

Referensi


Saturday, June 9, 2012

Peristiwa Luar Biasa pada Manusia


Pada sebagian manusia dapat dijumpai memiliki kemampuan melakukan peristiwa luar biasa ajaib yang tidak terjadi pada manusia pada umumnya. Sebagian peristiwa ini dapat dijelaskan secara fisik, namun sebagian lainnya tidak dapat dijelaskan secara fisik. Peristiwa ajaib ini dapat dibagi menjadi empat kategori, berdasarkan di  tangan siapa peristiwa terseut terjadi:

  1. Mukjizat: terjadi kepada para rasul a.s. sebagai bukti kerasulan mereka untuk menantang penentang-penentang mereka.
  2. Karamah: terjadi kepada kekasih-kekasih Allah (para wali) lambang kemuliaan yang Allah beri kepada mereka.
  3. Maunah: terjadi kepada orang-orang mukmin dengan berkat guru atau amalan tertentu yang diistiqamahkan.
  4. Sihir: terjadi di tangan orang-orang fasik atau kafir secara istidraj (dalam murka Tuhan).
Referensi:

Peringkat Suami Dalam Memenuhi Keperluan Istrinya


Setiap suami memiliki kewajiban memenuhi perkara-perkara yang diperlukan istrinya.

Keperluan istri dapat dibagi menjadi keperluan asas/primer dan keperluan yang tidak asas (sekunder). Keperluan primer ini misalnya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal. Jika keperluan ini tidak dipenuhi memang dapat mengganggu hal-hal fardhu ain, misalkan jika tidak ada makanan/minuman maka bisa kelaparan/kurang gizi dan jatuh sakit, jika tidak ada pakaian maka tidak dapat menutup aurat, ataupun kedinginan. Jika tidak ada tempat tinggal yang layak maka bisa jadi aurat ternampak, ataupun kedinginan, kepanasan, kehujanan, dan sebagainya.

Keperluan selain yang primer tersebut adalah keperluan yang tidak asas, yang kalau tidak ada maka tidak mengapa, namun kalau ada akan mempermudah kehidupan. Keperluan sekunder ini misalnya kendaraan, alat komunikasi, perabotan dan sebagainya. Keperluan sekunder ini jika ditangani dengan tepat dapat mempermudah kehidupan, namun jika berlebihan malah dapat jadi melalaikan, misalkan dengan alat komunikasi jadinya malah asyik mengobrol ke sana kemari sehingga mengabaikan kewajiban-kewajiban. Kendaraan juga kalau berlebihan bisa jadi dipakai bermegah-megah.

Keperluan primer dan sekunder tersebut dalam keluarga menjadi tanggung jawab suami. Dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut, para suami dapat dibagi menjadi beberapa peringkat sebagai berikut:

  1. Suami As Siddiqin: Suami yang mampu, senantiasa peka dan siap siaga memberi tanggung jawab kepada isteri dengan tidak usah diminta-minta oleh para isteri. Dia selalu saja tahu hal-hal mendasar/primer yang diperlukan oleh istrinya, seperti makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal. Suami tersebut juga mengetahui keperluan sekunder istrinya yang tidak berlebihan, yang masih dibenarkan oleh syariat. Jika suami tersebut memiliki kemampuan, dia tidak keberatan memenuhi keperluan sekunder istrinya.
  2. Suami Muqorrobin: Suami yang juga mampu, senantiasa peka dan bersedia memberi keperluan primer/asas  kepada isteri-isteri tanpa diminta oleh sang isteri. Namun di luar yang perlu tersebut, dia tidak akan memberi. Dia hanya akan memberi keperluan sekunder jika diminta. Jika suami mampu, dia tidak keberatan memenuhi keperluan sekunder yang diminta istrinya.
  3. Suami Soleh: Suami yang tidak memberikan apa-apa ke istri kalau tidak diminta. Namun demikian kalau diminta oleh istrinya, sang suami tidak keberatan memenuhi permintaan istrinya tersebut jika suami tersebut memiliki kemampuan.
  4. Suami Fasik: Suami yang mampu tetapi tidak tahu atau tidak mau tahu terhadap keperluan isteri-isterinya, sekalipun yang primer. Kalau diminta pun, dia tidak mau bertanggungjawab. Kalau dia memberi juga, dengan rasa terpaksa.  Suami begini lebih suka kalau isteri bekerja untuk boleh menanggung diri sendiri bahkan kalau boleh dia menumpang makan  dari hasil usaha isteri. 

Referensi: